Pages

Rabu, 15 Februari 2012

Keselamatan

KBR68H - Banyak komunitas terbentuk di masyarakat. Tujuannya beragam mulai dari hura-hura hingga yang bertujuan untuk perubahan. Kekuatan dan pengaruh komunitas cukup efektif untuk mempopulerkan suatu tujuan karena komunitas dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat. Bagaimana jika komunita situ dibentuk untuk membudayakan keselamatan berkendara?.
Jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia tiap tahun meningkat. Jumlahnya dihitung tak berdasarkan tahun lagi bahkan per/jam. Per/jam bisa 3-4 orang yang tewas akibat kecelakaan berkendara. “Itu data polisi, 2011 bisa naik lagi, jangan kaget,” ujar Kasubdit Promosi dan Kemitraan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Besty Ernani. Puncak jumlah kecelakaan terjadi pada 2005. Pada saat itu jumlah korban mencapai 100.000 kejadian. Belakangan menurun tapi jumlah orang yang meninggal akibat kecelakaan malah bertambah. “Ini artinya ada yang salah, faktor manusia di sini,” kata Pengamat Sosial Andi Agung.
Pengalaman kecelakaan lalu lintas dialami Jonter. Peristiwa itu terjadi 19 tahun lalu. Jonter sempat tak sadarkan diri lantaran ditabrak sebuah taksi ketika turun dari bus angkutan umum. “Jam 9 malam ke rumah abang, turun langsung ditabrak,” cerita Jonter. Lingkungan saat itu kata Jonter masih cukup ramai, tapi tidak untuk volume jumlah kendaraan. Orang-orang yang berada di lokasi kejadian mengira ia sudah tewas akibat kecelakaan tersebut. “Saya sudah ditutupi koran, kebetulan ada yang mengenali saya, dibawalah ke RS terdekat,” terang Jonter. Akibat kecelakaan itu kaki kirinya patah total dan baru bisa pulih setelah 6 bulan. “Saya ditabrak kena kaca depannya, beradu ke kepala saya, kaca depan taksi pecah semua, berlumuran darah,” kenang Jonter.
Peristiwa yang dialami Jonter, menurut Andi Agung berpeluang juga terjadi pada siapapun. Pasalnya, kecelakaan lalu lintas luput dari perhatian orang banyak. “Dianggap biasa saja,” tukas Andi Agung. Padahal kalau dilihat dari jumlahnya merupakan faktor pembunuh tertinggi di dunia. “Di dunia ke-5, di Indonesia setelah penyakit jantung dan stroke,” sebut Andi Agung. Oleh sebab itu kehadiran Kelompok Masyarakat Sadar Keselamatan penting untuk mengubah prilaku masyarakat yang tak sadar berkeselamatan. “Kita lagi dorong dan upayakan terus,” kata Besty Ernani
Komunitas Masyarakat Sadar Keselamatan
Kementerian Perhubungan akan terus memperkuat sosialisasi budaya keselamatan dan keamanan lalu lintas. Salah satunya lewat pembentukan Kelompol Masyarakat Sadar Keselamatan (KMSK). Tercatat sampai saat ini kurang lebih ada 14 KMSK. “Pilot project ada di Kalimantan dan Jawa,” contoh Kasubdit Promosi dan Kemitraan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Besty Ernani.  Komunitas yang peduli terhadap keselamatan berlalu lintas bukan melulu klub motor. Tapi juga bisa berbentuk kelompok masyarakat. “Masyarakat kita ajak ngobrol, diskusi, lalu dibentuklah ketua dan ada anggotanya,” terang Besty Ernani.
Kebanyakan masyarakat di suatu wilayah mau membentuk kelompok ini lantaran banyak korban yang jatuh akibat kecelakaan lalu lintas. “Di Kalimantan itu, jalanan baru di bangun, bagus dan mulus, eh tapi jadi banyak tabrakan di tikungan,” ujar Besty Ernani. Kelompok Masyarakat Sadar Keselamatan tersebut lantas membuat suatu cara yang bisa mengurangi tingkat kecelakaan. Misalnya dengan membuat baliho yang di pasang sebelum menuju lokasi rawan kecelakaan. “Ada baliho bergambar, mereka yang pilih,” cerita Besty Enarni.
Pengamat sosial Andi Agung mengatakan KMSK adalag trobosan yang cukup efektif untuk mengurangi jumlah angka kecelakaan berlalu lintas. Ternasuk mengubah prilaku yang tak disiplin atau tak aman berkendara. Hal ini karena melibatkan individu yang terlibat langsung di  lingkungan masyarakat. “Satu keluarga memiliki potensi anggotanya untuk kecelakaan, karena kepemilikan kendaraan,” ujar Andi Agung. Ketelandaan dan contoh yang baik harus terus digulirkan dengan cara-cara yang simpel. “Gak usah muluk-muluk, sosialisasi saja pas pertemuan RT/RW,” saran Andi Agung.
Pendampingan terhadap Kelompok Masyarakat Sadar Keselamatan akan diberikan Kementerian Perhubungan, bersinergi dengan kepolisian setempat, Kementerian Pekerjaan Umum dan lembaga terkait. “Kekuatan kita people power, tapi ada dukungan dari pihak terkait,” tambah Besty Enarni. Pemerinta tak punya kekuatan untuk bekerja sendiri. Butuh juga dukungan dari yang lain. Termasuk masyarakat. “Setiap orang punya kesempatan atau peluang menyelamatkan satu nyawa untuk tidak celaka lewat komunitas,” tutur Andi Agung.
Boleh Mencontek
Daerah lain yang berminat membentuk Kelompok Masyarakat Sadar Keselamatan bisa langsung menghubungi Kementerian Perhubungan. Program dan kegiatan akan difasilitasi. Termasuk pendampingan kegiatannya. “Ini bisa diadopsi ke daerah mana pun, silahkan fax saja ke 021-386221 ” ujar Kasubdit Promosi dan Kemitraan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Besty Ernani. Hasil dari pembentukan kelompok masyarakat sadar keselamatan tak bisa cepat. Hal ini karena mengubah prilaku mereka. “Dari tidak patuh menjadi patuh, melanggar tidak melanggar, tentu bukan setahun dua tahun,” tukas Besty Enarni.
Di beberapa daerah tanggapan masyarakat tentang pembentukan Kelompok Masyarakat Sadar Keselamatan sangat baik. Para ibu-ibu justru yang paling tertarik. “Ibu-ibu, orang pertama yang mengajarkan berbagai hal kepada anaknya,” tutur Besty Enarni.  Komunitas Masyarakat Sadar Keselamatan harus tumbuh dari masyarakat itu sendiri. Bila sudah difasilitasi jangan terus berharap difasilitasi. Tapi kelompok masyarakat itu harus mandiri. “Berkumpul bersama, saling mengingatkan untuk patuh berkendara, tidak melanggar aturan,” tutup Pengamat Sosial Andi Agung.

0 komentar:

Posting Komentar