Jumlah kecelakaan lalu lintas di
Indonesia tiap tahun meningkat. Jumlahnya dihitung tak berdasarkan tahun
lagi bahkan per/jam. Per/jam bisa 3-4 orang yang tewas akibat
kecelakaan berkendara. “Itu data polisi, 2011 bisa naik lagi, jangan
kaget,” ujar Kasubdit Promosi dan Kemitraan Ditjen Perhubungan Darat
Kementerian Perhubungan Besty Ernani. Puncak jumlah kecelakaan terjadi
pada 2005. Pada saat itu jumlah korban mencapai 100.000 kejadian.
Belakangan menurun tapi jumlah orang yang meninggal akibat kecelakaan
malah bertambah. “Ini artinya ada yang salah, faktor manusia di sini,”
kata Pengamat Sosial Andi Agung.
Pengalaman kecelakaan lalu lintas
dialami Jonter. Peristiwa itu terjadi 19 tahun lalu. Jonter sempat tak
sadarkan diri lantaran ditabrak sebuah taksi ketika turun dari bus
angkutan umum. “Jam 9 malam ke rumah abang, turun langsung ditabrak,”
cerita Jonter. Lingkungan saat itu kata Jonter masih cukup ramai, tapi
tidak untuk volume jumlah kendaraan. Orang-orang yang berada di lokasi
kejadian mengira ia sudah tewas akibat kecelakaan tersebut. “Saya sudah
ditutupi koran, kebetulan ada yang mengenali saya, dibawalah ke RS
terdekat,” terang Jonter. Akibat kecelakaan itu kaki kirinya patah total
dan baru bisa pulih setelah 6 bulan. “Saya ditabrak kena kaca depannya,
beradu ke kepala saya, kaca depan taksi pecah semua, berlumuran darah,”
kenang Jonter.
Peristiwa yang dialami Jonter, menurut
Andi Agung berpeluang juga terjadi pada siapapun. Pasalnya, kecelakaan
lalu lintas luput dari perhatian orang banyak. “Dianggap biasa saja,”
tukas Andi Agung. Padahal kalau dilihat dari jumlahnya merupakan faktor
pembunuh tertinggi di dunia. “Di dunia ke-5, di Indonesia setelah
penyakit jantung dan stroke,” sebut Andi Agung. Oleh sebab itu kehadiran
Kelompok Masyarakat Sadar Keselamatan penting untuk mengubah prilaku
masyarakat yang tak sadar berkeselamatan. “Kita lagi dorong dan upayakan
terus,” kata Besty Ernani
Komunitas Masyarakat Sadar Keselamatan
Kementerian Perhubungan akan terus
memperkuat sosialisasi budaya keselamatan dan keamanan lalu lintas.
Salah satunya lewat pembentukan Kelompol Masyarakat Sadar Keselamatan
(KMSK). Tercatat sampai saat ini kurang lebih ada 14 KMSK. “Pilot project ada
di Kalimantan dan Jawa,” contoh Kasubdit Promosi dan Kemitraan Ditjen
Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Besty Ernani. Komunitas yang
peduli terhadap keselamatan berlalu lintas bukan melulu klub motor. Tapi
juga bisa berbentuk kelompok masyarakat. “Masyarakat kita ajak ngobrol,
diskusi, lalu dibentuklah ketua dan ada anggotanya,” terang Besty
Ernani.
Kebanyakan masyarakat di suatu wilayah
mau membentuk kelompok ini lantaran banyak korban yang jatuh akibat
kecelakaan lalu lintas. “Di Kalimantan itu, jalanan baru di bangun,
bagus dan mulus, eh tapi jadi banyak tabrakan di tikungan,” ujar Besty
Ernani. Kelompok Masyarakat Sadar Keselamatan tersebut lantas membuat
suatu cara yang bisa mengurangi tingkat kecelakaan. Misalnya dengan
membuat baliho yang di pasang sebelum menuju lokasi rawan kecelakaan.
“Ada baliho bergambar, mereka yang pilih,” cerita Besty Enarni.
Pengamat sosial Andi Agung mengatakan
KMSK adalag trobosan yang cukup efektif untuk mengurangi jumlah angka
kecelakaan berlalu lintas. Ternasuk mengubah prilaku yang tak disiplin
atau tak aman berkendara. Hal ini karena melibatkan individu yang
terlibat langsung di lingkungan masyarakat. “Satu keluarga memiliki
potensi anggotanya untuk kecelakaan, karena kepemilikan kendaraan,” ujar
Andi Agung. Ketelandaan dan contoh yang baik harus terus digulirkan
dengan cara-cara yang simpel. “Gak usah muluk-muluk, sosialisasi saja
pas pertemuan RT/RW,” saran Andi Agung.
Pendampingan terhadap Kelompok
Masyarakat Sadar Keselamatan akan diberikan Kementerian Perhubungan,
bersinergi dengan kepolisian setempat, Kementerian Pekerjaan Umum dan
lembaga terkait. “Kekuatan kita people power, tapi ada dukungan
dari pihak terkait,” tambah Besty Enarni. Pemerinta tak punya kekuatan
untuk bekerja sendiri. Butuh juga dukungan dari yang lain. Termasuk
masyarakat. “Setiap orang punya kesempatan atau peluang menyelamatkan
satu nyawa untuk tidak celaka lewat komunitas,” tutur Andi Agung.
Boleh Mencontek
Daerah lain yang berminat membentuk
Kelompok Masyarakat Sadar Keselamatan bisa langsung menghubungi
Kementerian Perhubungan. Program dan kegiatan akan difasilitasi.
Termasuk pendampingan kegiatannya. “Ini bisa diadopsi ke daerah mana
pun, silahkan fax saja ke 021-386221 ” ujar Kasubdit
Promosi dan Kemitraan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan
Besty Ernani. Hasil dari pembentukan kelompok masyarakat sadar
keselamatan tak bisa cepat. Hal ini karena mengubah prilaku mereka.
“Dari tidak patuh menjadi patuh, melanggar tidak melanggar, tentu bukan
setahun dua tahun,” tukas Besty Enarni.
Di beberapa daerah tanggapan masyarakat
tentang pembentukan Kelompok Masyarakat Sadar Keselamatan sangat baik.
Para ibu-ibu justru yang paling tertarik. “Ibu-ibu, orang pertama yang
mengajarkan berbagai hal kepada anaknya,” tutur Besty Enarni. Komunitas
Masyarakat Sadar Keselamatan harus tumbuh dari masyarakat itu sendiri.
Bila sudah difasilitasi jangan terus berharap difasilitasi. Tapi
kelompok masyarakat itu harus mandiri. “Berkumpul bersama, saling
mengingatkan untuk patuh berkendara, tidak melanggar aturan,” tutup
Pengamat Sosial Andi Agung.
0 komentar:
Posting Komentar